“Nyanyian anak rantau”

28 03 2008

Padahal dulu tak pernah terfikirkan

Bahwa semua akan dialami

Juga perasaan ingin berbakti

Mungkin akan tiba saatnya

Seorang anak menangis dinegeri orang

Lantas ingin pulang

Tapi tak punya harapan 

Akhirnya hanya doa

Agar ibu tak lekas pergi

Sampai anaknya sempat kembali

Bercerita tentang hidup senang serba kecukupan

Seperti dalam dongeng-dongeng





“Hadiah sebuah keikhlasan”

26 03 2008

Ikhlas adalah sebuah kata yang penuh makna dan syarat akan arti tentang ketulusan yang tanpa pamrih. Setiap yang kita lakukan haruslah dengan ikhlas, baik untuk pribadi maupun orang lain. Dalam bekerja kita juga harus ikhlas agar kita terhindar dari rasa kecewa yang bisa berakibat frustasi.

Selalu kuingat kata itu “(ikhlas)”, dalam setiap langkahku demi masa depan keluargaku kelak. Meskipun banyak cobaan yang menghadang, selalu kuingat kata ikhlas agar aku tidak melupakan tanggung jawabku sebagai anak dari orang tuaku dan abang dari adik2ku. Kasih sayangku pada mereka bagai kasihku pada diriku, dari setiap tetes keringatku adalah pengabdian pengganti air mata mereka. Tiada kubiarkan air mata itu menetes kecuali air mata keharuan akan datangnya kegembiraan, biarlah kuganti airmata kesedihan dengan keringatku. Kusadari tiada pengganti lelahku agar semangatku tetap berkobar selain kata ikhlas, ikhlas dan ikhlas. Kata2 itu bagaikan meriam yang meluluh lantakkan keegoisanku dan membuatku selalu optimis akan hari esok yang lebih baik.

Dalam keyakinanku dan didalam Al Quran tertulis siapapun yang ikhlas akan dibukakan pintu rezki dari bumi dan langit. Dalam setiap doaku selalu kupinta keberhasilan buat diriku, keluargaku dan kebahagiaan buat orang tuaku.

Keikhlasan telah memberikan banyak keajaiban dalam hidupku, atas sesuatu yang ingin kucapai dalam hidupku. Kini keajaiban tersebut telah menjadi nyata, dimana aku bisa membangun sebuah rumah, menyelesaikan pendidikanku menjadi sarjana,membantu orang tua dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang kemarin serta membiayai adik2ku hingga perguruan tinggi. Dan saat ini aku sedang menunggu sebuah keajaiban besar dalam hidupku, Insya Allah semua keajaiban yang kuharapkan dapat terwujud seperti doaku dalam tahajud2 ku.Amin





Teater Tampere

8 03 2008

cimg0191.jpg





FAT Team Metso

8 03 2008

fat-test-team-38.jpg





Lake in Tampere

8 03 2008

hakmal-tako-17.jpg





Tampere, Finland (Europe)

8 03 2008

s3010036.jpg





“Jalan tak selamanya mendaki”

8 03 2008

Cobaan demi cobaan selalu datang silih berganti dalam hidupku. Terkadang ada rasa putus asa serta perasaan kurang beruntung. Padahal masih banyak orang lain yang lebih bernasib buruk dariku. Kusadari aku masih muda dan banyak yang bisa kuperbuat untuk diriku dan keluargaku. “Tak selamanya jalan itu mendaki” itulah kata positif yang selalu ku sugestikan dalam diriku, saat kesulitan menghampiriku agar semangatku bangkit kembali.

Saat pulang kekampung kulihat ibuku yang berjualan gorengan, kulihat ia tiada mengeluh ia begitu tabah sebagai seorang istri dan  ibu meskipun sudah 7 tahun ayahku terserang stroke. Kukatakan pada ibu “Tak selamanya jalan itu mendaki”, ibuku mengeluarkan air mata. Kutanyakan kenapa, ibu berkata ia kasihan melihatku harus menghabiskan gajiku untuk biaya adik2ku. Aku ikhlas bu, adik2ku adalah harapan masa depan keluarga ini. Aku ingin  ibu bahagia melihat keberhasilan anak2 ibu mewujudkan cita2nya, meskipun kita hidup serba kekurangan. Ibu telah memberikan teladan kepada kami agar tidak menyerah atas kekurang beruntungan keadaan, semangat dan tekadnya telah  menginspirasi sepanjang hayatku. Ibu kaulah cahaya hidupku seperti arti namamu Nurhayati.